Sabtu, 14 Juli 2007

Laporan Utama

SIDANG UMUM FAKULTAS PERTANIAN
TANPA PEMAPARAN LPJ

Oleh Miswar


Pesta demokrasi Pemilihan Raya (Pemira) di Fakultas Pertanian berjalan lancar. Tidak ada satu kendala berarti yang membuat “pesta” demokrasi warga pertanian itu terhalang. Pemira yang berlangsung pada tanggal 14-15 Mei telah berhasil menjadikan Hadi Surya dari Jurusan Teknik pertanian menjadi orang nomor satu di Fakultas yang dipimpin oleh Ibu Maya tersebut. Ia menang tipis enam suara dari rivalnya Hendra Koeswara.

Namun, di balik kesuksesan tersebut ternyata masih ada saja permasalahan. Sebelum proses Pemira berjalan, sudah menjadi keharusan jika KBM melakukan Sidang Umum untuk menentukan sistem pemilihan, merevisi GBHK, GBHO, AD/ART dan mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus pemerintahan mahasiswa periode sebelumnya.

Pelaksanaan SU KBM Fakultas Pertanian tahun ini jelas berbeda dengan Sidang Umum tahun-tahun sebelumnya. Dalam sidang yang dipimpin oleh Alja Yusnadi tersebut, ada satu agenda yang terlewatkan, yaitu pemaparan Laporan pertanggung jawaban pengurus PEMA Fakultas Pertanian periode sebelumnya yang tidak dilaksanakan .

Zulfahmi yang dikonfirmasikan tim Lapsus DETaK mengatakan, “Memang benar pemaparan LPJ tidak dilakukan, hal ini dikarenakan forum tidak menginginkan LPJ dilaksanakan. Padahal kami dari pihak pengurus telah mempersiapkannya.” Sementara Hadi Surya yang saat sidang mewakili Jurusan Teknik Pertanian mengatakan, “Hari itu, forum sebenarnya bukan tidak ingin mendengarkan laporan pertanggung jawaban, tetapi forum telah tersulut emosi, karena ulah pengurus.”

Seperti telah disepakati pada pembahasan agenda akan dilaksanakan pemaparan LPJ pengurus, tetapi sampai waktunya tiba Zulfahmi yang merupakan Gubernur PEMA periode sebelumnya belum juga tiba di ruang sidang. Setelah ditelpon berkali-kali, ia tidak mengangkat Hand Phone. Tapi, kami tetap berusaha untuk menghubunginya, dan akhirnya ia mengangkat telepon dan mengatakan sedang berada di rumah sakit. Kami memintanya untuk segera datang guna menyampaikan LPJ. Setelah satu jam kemudian Zulfahmi datang, sedangkan forum sudah terbakar emosi dan menyuruh ia untuk keluar dari ruang sidang

Akhirnya forum menyatakan menolak laporan pertanggung jawaban pengurus PEMA pertanian tahun 2006. Sebagai konsekuensi dari penolakan tersebut, Zulfahmi diharuskan untuk membuat dua spanduk yang berisikan permintaan maaf kepada mahasiswa pertanian. Selain itu ia juga diwajibkan untuk mengirim surat permintaan maaf kepada semua lembaga kemahasiswaan internal kampus pertanian.

Sebenarnya, ketidakhadirannya itu diakibatkan karena rasa bersalahnya terhadap mahasiswa Pertanian. Ada beberapa program dari PEMA periode lalu yang tidak ada kejelasan. Yang pertama adalah masalah dana ASAP yang dikutip Rp. 70.000,- per mahasiswa baru dimana rencananya kegiatan itu akan dilaksanakan tiga hari. Namun, seperti yang kita ketahui acara tersebut hanya berlangsung sehari. Yang kedua adalah masalah dana yang dikucurkan BRR NAD-Nias Satuan Kerja Sosial sebesar Rp.20.000.000,- untuk pelaksanaan bakti sosial. Tidak jelas dimana dan kapan pelaksanaan kegiatan tersebut. Ungkap Hadi Surya danZUhri Mayundi (Ketua HMJ THP)

Untuk dana dari BRR beberapa HMJ telah mencoba mengkonfirmasinya ke pihak BRR NAD-Nias Satuan Kerja Sosial. Pihak BRR menyatakan benar telah mentransfer dana ke rekening PEMA FP. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan, namun pihak BRR tidak mengetahui lagi dimana dan kapan waktu pelaksanaannya. Mereka (BRR NAD-Nias.red) menyatakan laporan kegiatan tersebut tidak diketahui lagi dimana, karena pihak Satker sosial baru saja pindah kantor.

Menanggapi hal itu, Zulfahmi menyatakan bahwasanya hari itu benar ia berada di rumah sakit untuk mengecek kesehatannya yang agak sedikit terganggu karena terlalu banyak begadang untuk mempersiapkan LPJ. Tetapi yang membuat ia bertanya kalau memang forum tidak menginginkan dipaparkan LPJ kenapa forum menunggunya. Dan yang lebih aneh lagi menurutnya adalah adanya pernyataan penolakan bersyarat terhadap LPJ. “Saya mau bertanya, konsep mana yang menyatakan adanya penolakan bersyarat. Sejauh yang saya ketahui belum ada suatu konsep yang menyatakan demikian,” ungkapnya.

Mengenai penyalahgunaan dana ia mengatakan, bagaimana forum bisa mensinyalir bahwa saya melakukan penyelewengan penggunaan dana sedang laporan pertanggung jawabannya saja tidak sempat saya paparkan. Jadi tidak ada sebuah alasan untuk menyatakan bahwa saya telah menyelewengkan dana. “Untuk bakti sosial kita dari pengurus telah melaksanakan kegiatan itu di Kecamatan Panga, Aceh Jaya. Kegiatan tersebut kita laksanakan menjelang bulan puasa yang lalu dengan jumlah peserta sekitar 18 orang dan koordinatornya adalah Salman (Wakil Gubernur PEMA saat itu. red). Untuk sosialisasinya kita telah berusaha mensosialisasikannya semaksimal mungkin, tetapi pada saat itu mahasiswa Pertanian lagi sibuk-sibuknya ujian,” Ungkap Zulfahmi yang didampingi Salman.

Untuk dana ASAP, Salman menyatakan, “Memang secara kasat mata ASAP dilaksanakan sehari, tetapi pasca kericuhan ASAP tetap dijalankan oleh “panitia bayangan”. Nah, untuk pelaksanaan ASAP oleh panitia bayangan ini tetap menggunakan dana yang telah dikutip dari mahasiswa baru baik itu untuk konsumsi maupun kebutuhan lainnya. Jadi sebenarnya semua permasalahan akan terselesaikan apabila LPJ yang telah kami (pengurus) susun itu dipaparkan.”

Menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi di Fakultas Pertanian secara keseluruhan ia berharap agar semua elemen melihat hal tersebut secara bijak dan menjadikan itu semua sebagai sebuah pelajaran bagi kita semua. Ke depan ia berharap apapun usaha yang dilakukan untuk membangun Fakultas Pertanian haruslah sesuai dengan prosedur dan sistematis serta mengacu pada kesepakatan bersama dengan tetap mengacu pada aturan yang berlaku.